Bahagia

Kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, kepada Tuhan yang menciptakan senja dan air hujan, dan kepada Tuhan yang menciptakanku dan dirinya- aku mencintainya.

Sungguh, aku mencintainya.

Pagi, siang, malam, tak hentinya aku memikirkannya. Memikirkan berapa helai rambut yang jatuh dari kepalanya. Memikirkan berapa kali senyum yang ia kembangkan hari ini. Dan memikirkan seberapa besar cintanya yang ia berikan padaku.

Setiap malam sebelum tidur, kusempatkan diri untuk menerawang. Menembus langit-langit hingga putaran galaksi, demi menjangkau imajinasiku. Berangan-angan ketika kau ada di sampingku, tersenyum padaku dan memegang tanganku.

Seolah tak ada bahasa lain yang bisa mengungkapkan cinta kita, KITA hanya terdiam membisu. Saling bertukar bahasa kalbu. Kemudian ketika kita mengerti satu sama lain, bibir yang akan merespon semuanya. Dengan senyuman tipis namun penuh cinta. Lalu tangan kita saling bergenggaman erat, meyakinkan satu sama lain bahwa cinta kita tak akan mudah terlepaskan.

Kita. Bahagia.

16-10.

Advertisements

I’m Glad It was Him.

He’s completely mine!

Bukan sekedar soul, hati, atau pikiran tapi juga body and his you-know-what.

Aku akui, cintaku bertambah besar karena sentuhan fisik yang ia berikan. Misalnya berpegangan tangan, berpelukan, atau kissing.

Tapi cinta yang kuberikan padanya, murni- dari hati dan serius.

Untuk itu aku tak ada pikiran untuk melepasnya meskipun ia kristen.

So what? Apakah aku tak boleh mencintai seorang Christian? Toh aku tak akan berpikir jauh untuk menuju jenjang pernikahan walaupun aku sangat ingin. Aku selalu berdoa pada Allah, “Ya Allah, selamatkanlah aku. Aku mencintai-Mu lebih dari dirinya.”

Akan kuceritakan sedikit kisah tentang aku dan dirinya.

Jujur. Aku memang menyukainya sejak satu tahun yang lalu. Dimana aku masih berbadan gempal dengan pipi yang menggembung dan masih belum akrab dengan nama ‘Gallant Prakoso’

Namun sebuah keadaan menggiringku untuk duduk sebangku dengannya. Membagi kisah hidup bersama, senang dan duka ia ceritakan padaku. Dari situ, aku melihat sedikit kepercayaan yang ia taruh padaku.

Berbagi kisah yang menyakitkan itu tidak gampang, kau tahu? Kau harus percaya kepada seseorang itu bahwa ia akan menutup mulut dan melindungimu. Dan Itulah gambaran yang kulihat dari dirinya.

Sejak saat itu, aku menyukainya. Ia peduli padaku. Ia bisa melihatku.

Sampai saat ini pun, aku menyukai- tidak, aku mencintainya.

The first person who stole my heart was him. And I’m glad it was Gallant Prakoso.