Teman?

Hujan.

Rintik-rintik air jatuh pelan di permukaan wajahku, mengendap sebentar, kemudian sirna begitu saja.

Aku mendongak ke atas, melihat beribu-ribu buliran air yang bunuh diri demi menyelamatkan bumi yang mulai kering. Apakah untuk kebaikan semua orang, kau rela untuk mati, hujan?

Aku duduk di sebelah jendela besar yang sedikit terbuka, memberikan celah bagi air hujan untuk menyusup dan menghiburku. Kugosok-gosokkan kedua tanganku, berharap hal itu bisa mengusir dingin yang mulai menghinggap. Kurasa hujan kali ini terasa lebih dingin, entah karena angin sedang jatuh cinta dengan hujan atau karena perkataaannya yang dingin.

Teman, katanya.

Aku menghembuskan napas berat. Masih tergambar jelas apa yang terjadi tiga jam yang lalu.

“Sebenarnya kita ini apa?”

Aku yang sedang mencubiti perutnya gemas berhenti seketika. Senyumku berangsur-angsur memudar. Kutatap mata sipit itu “Maksudmu apa?”

“Kamu menganggap aku apa, Alya? Teman atau apa?”

Aku terdiam. Tidak bisa menjawab.

“Teman, kan?” tuntutnya.

Aku menggigit bawah bibirku “Ehm, sebenarnya aku nggak enak sama Wanda. Kamu tahu kan, dia suka sama kamu. Sedangkan kamu suka sama…” aku menunduk, menghindari kontak mata “aku.”

Ia terdiam. Kemudian aku menatapnya dan ia membuang muka “Bukankah kamu menolak perasaanku kemarin? Jadi, untuk apa kamu nggak enak sama dia?”

Ah, benar.

Kira-kira satu bulan yang lalu, Dani menyatakan perasaannya padaku tapi aku menolaknya dengan alasan aku tak punya perasaan yang sama dengannya. Tapi setelah insiden aku menolaknya, kami tetap berhubungan baik- sebagai teman biasa. Ia tetap memberiku perhatian, aku juga meresponnya dengan baik. Tapi sekarang, mengapa aku merasa ada yang janggal kalau dia mengatakan bahwa kita hanyalah seorang teman setelah ia selalu mengucapkan “Aku sayang kamu” setiap malam? Atau jangan-jangan aku-

Tidak. Tidak boleh. Ada perasaan temanmu yang harus kamu jaga, Al. Suara batinku menengahi.

“Ya sudah, berarti kita teman.” ucap Dani cepat seraya berjalan meninggalkanku. Bayangan punggung lebar itu mulai mengecil dan mengecil sampai akhirnya menghilang diantara kerumunan orang yang lalu-lalang di lorong kampus.

Petir yang barusan lewat membuyarkan lamunanku. Hujan bertambah deras dan aku tidak bawa payung. Kelihatannya aku harus menunggu lebih lama lagi. Masih di ruang kelas, ku buka jendela itu lebih lebar sehingga angin bisa masuk dan memainkan kerudungku.

Aku terpejam. Berpikir. Mengapa ia bertanya seperti itu? Mungkinkah ada orang lain yang diam-diam menyisihkan keberadaanku? Mungkinkah seseorang telah mengisi hari-harinya? Mungkinkan ia mendapatkan penggantiku?

Mungkinkah?

Seketika aku berdiri dan mulai berlari. Ruang demi ruang kudatangi, setiap lorong kutelusuri, mencari sesosok laki-laki bertubuh gempal, tinggi, putih, dan bermata sipit. Ingin kutanyakan pertanyaan yang berkelebat barusan. Aku ingin jawaban.

Ketemu. Di kantin.

Laki-laki berbaju merah dipadu-padankan dengan jeans biru dongker terlihat sedang mainkan ponselnya.

“Dani!” panggilku setengah berteriak. Dani menoleh kaget.

“Aku mau bertanya sesuatu. Tentang tadi, kenapa kamu tanya itu? Apa ada orang yang kamu suka?” cecarku.

Pupil matanya membulat, ia terlihat bingung “Ng-nggak. Nggak ada. Memangnya kenapa?”

Aku menahan senyumku kemudian duduk di sebelahnya “Benarkah? Tapi kenapa kamu tanya kayak itu?”

“Aku cuma mau tanya. Memangnya nggak boleh?”

“Hmm… Boleh sih.”

Jeda. Lama sekali. Tik tok tik tok.

“Kita bener-bener cuma teman ya?” pertanyaan dari mulut Dani memecah keheningan.

Aku menoleh padanya “Entahlah.” aku menyandarkan kepalaku ke meja “Sebenarnya ada rasa senang kalau bisa lihat kamu diam, ketawa, bahkan lagi serius. Aku juga senang kalau kadang kamu goda aku, mencubit pipiku, atau mengejekku. Bagiku hal menyebalkan itu yang justru membuatku berdebar.”

Diam sebentar. Keheningan menyelimuti kami berdua. Tidak peduli dengan suara bising kantin yang kian riuh, aku masih bisa mendengar napas Dani dari tempat dudukku.

“Itu perasaanku yang sebenarnya. Tapi aku tak bisa menganggapmu lebih dari teman. Karena aku mau menjaga satu hati perempuan itu.” Aku mendongak dan melihat matanya “Bukankah lebih baik seperti itu?” Aku tersenyum pahit.

“Sudah cukup! Tolong jangan hiraukan Wanda! Toh, yang menjalankan hubungan kita berdua!” Ia menghentakkan kaki. Suaranya meninggi.

“Tapi Dan, kamu tahu kondisi seperti apa. Aku pernah dibilang ‘nikung teman’ atau ‘pengkhianat’. Kamu tahu itu.” belaku tak mau kalah.

“Terserah Al. Kalau ini menurutmu baik, ya sudah. Tapi aku nggak mau hubungan yang nggak jelas kayak gini. Lebih baik aku pergi.”

“Tapi-“

Dani tidak menggubrisku dan membereskan mejanya lalu pergi begitu saja.

Berakhir. Berakhir sudah. Hubungan teman-yang-tidak-jelas ini berakhir.

Mataku terasa panas. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Buru-buru aku memejamkan mata. Kuhembuskan napas pelan melalui mulutku dan tersenyum “Aku juga sayang kamu, Dan.”

Sekarang aku tahu, hujan. Apa yang kau rasakan ketika tubuh kecilmu menghantam kerasnya tanah. Kau jauh dari kata bersedih, sebaliknya kau rela membiarkan dirimu jatuh bebas untuk semua orang. Tak peduli kau kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu, jika itu mengatasnamakan semua orang, maka kau bersedia untuk mati.

Advertisements

Akankah kau mampu?

Sedih ya.

Melihat kenyataan yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.

Menginginkan A, tetapi tak bisa mendapatkannya.

Menginginkan B, ada pihak C yang tidak menyetujuinya.

Menginginkan sesuatu itu boleh, tetapi kalau tidak bisa mendapatkannya? Akankah kau memperjuangkan sesuatu itu mati-matian dan mengorbankan seluruh hidupmu kepada ‘sesuatu’ itu?

Sebagian orang akan mengatakan ‘YA’.

Tapi bagiku, ‘TIDAK’ jawabannya.

Mungkin sesuatu yang bukan melibatkan perasaan itu bisa dikejar, tetapi sesuatu yang melibatkan perasaan terutama seseorang itu tidak bisa dikejar. Apalagi seseorang itu punya hal khusus yang memang tidak bisa dikejar.

Agama contohnya.

Mengejar seseorang yang berbeda agamanya, akankah kau mampu?

Mencintai seseorang dan ia pun mencintaimu, sayangnya kau islam dan dia kristen, akankah kau mampu?

Dan misalnya ia jelas selalu hadir ke gereja hari Minggu sedangkan kau menunaikan sholat 5 waktu tanpa ada hari Minggu-Mingguan yang melibatkan aktivitas duduk dan berdoa kepada Tuhan versi Kristen?

Sekali lagi.

Akankah kau mampu?

Pernah Kuberharap

Semua sama saja.
Pagi berganti siang, siang berganti malam.
Angin lembut nan segar yang menggelitik di pagi hari. Terik matahari yang membakar kulit di siang hari. Dan bulan yang memberikan tarian selamat datang di malam hari.
Sesekali terdengar bunyi gemericik hujan yang menyayat hati. Semerbak harum aroma tanah. Dan tempo musik yang kian melembut.
Ah…
Ingin kupejamkan mata untuk sejenak.
Memberi sedikit ruang kepada pikiran dan perasaan. Agar tidak melulu tegang. Rileks… rileks… rileks…
Aku tersenyum.
Pernah kuberharap kepada awan hitam, agar lebih mengalah kepada awan putih. Sehingga banyak orang tak mengeluh tentang pakaian mereka yang masih basah.
Pernah kuberharap kepada matahari, agar tidak menyinari bumi dengan sepenuh tenaga. Sehingga aku tidak harus mengibaskan sebuah buku kearah wajahku.
Pernah kuberharap kepada buku, agar ia bisa berbicara. Sehingga selalu menemaniku di saat aku sendiri.
Pernah kuberharap kepada dirinya, agar ia selalu menemaniku, menghiburku, dan ada disampingku. Sehingga aku pun tak perlu susah-susah menahan air mata karena tidak ada satupun tanda ketertarikan dirinya untuk bersamaku.
Pernah kuberharap… pernah kuberharap…
Ada seseorang yang mengatakan bahwa, “Jangan pernah berharap kepada orang lain.”
Ya.
Aku tak akan berharap lagi.
Aku janji.

Aku Lelah.

Oh my God. Ia menemukan buku diary-ku.

Aku menyambungkan kembali akun Skype-ku dan menghubunginya. Aku kangen wajah bundernya.

Ketika ia tiba-tiba berkata “Aku menemukan hal yang menarik.” Ia menyunggingkan senyum yang licik.

“Apa?”

Ia menatapku sebentar, kemudian kembali terfokus pada layar laptopnya.

DEG!

“Sayang? Hal menarik apa?” Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apa?”

Aku terus mendesaknya.Tuhan, jangan bilang kalau dia-

“arinimylife-”

“What the f-” aku menahan kata-kata kasar itu keluar “Please, jangan di buka.”

Tapi ia tidak bergeming dan masih menelusuri kata demi kata yang kutuliskan di sana.

F***

Aku langsung mematikan Skype dan mencopot baterai ponsel. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana cara menyembunyikan blog sialan itu.

Tanpa sadar air mata mulai menetes. Kukira aku benar-benar kesurupan. Bergumam tidak jelas, air mata merebak, ponsel yang sengaja aku gebuk-gebukin lantai, dan membayangkan ekspresi ‘dia’ yang pastinya bakal marah gara-gara aku hilang.

Tapi aku lebih marah.

Aku lebih marah dengan diri sendiri, dengan dirinya yang masih membuka blogku meskipun aku meneriakinya ‘Jangan!’, aku marah dengan dia yang tidak menghiraukanku dan hanya peduli dengan video sialan yang ia tonton, dengan diriku yang tidak bisa menahan senyumku sampai waktu telepon habis, dengan diriku yang tidak bisa akting baik di depannya, dengan diriku yang tiba-tiba menyembur dan hilang entah kemana, aku marah dengan semuanya.

Ini memang salahku.

Tak sadar, air mataku jatuh lebih deras.

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.

Aku hanya ingin melihat senyumnya, melihat moodbooster-ku senang.

Apakah itu tidak boleh?

Tak bisakah orang yang kucintai saat ini, melihatku dan tersenyum untuk sesaat?