Well, it’s me again.

Hello.

It’s me.

It’s been a long time I didn’t write anything in this blog.

Hmm, this blog feels empty. I should write more.

So, what’s the reason I write back in this blog? Because,

  1. I miss this blog. I admit it, I really miss this blog-like-my-diary.
  2. Many things comes and goes.
  3. I really want to write again. To write something that makes me feel “Ah, so this is really my story? I can’t believe it I made this.” Maybe, that kind of writing.

And why I write all of this- probably ‘chit-chat’ because I want to learn English more. For maybe 4-5 months, I never speak up or write something in English. And when I try it, it’s like I never learn English. I can’t say anything -_-

That’s why.

Should I write a story again? A story that will hypnotize someone. A story that will make someone is crying or feel happy. A story between two people falling in love.

 

Advertisements

Ketika lembaran uang datang dan pergi.

Ya Allah, aku benar-benar butuh uang.

Demi dompet tebal yang hanya berisi beberapa lembar uang bergambar pahlawan Pattimura, aku butuh uang.

Sudah berkali-kali aku putar otak, memikirkan apa yang bisa kulakukan untuk bekerja. Ya, aku- seorang SMA semester akhir yang seharusnya belajar- berpikir tentang bagaimana mendapat uang dengan cara bekerja.

Dan sayangnya aku yang sudah 17 tahun tapi masih diperlakukan seperti anak 10 tahun tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali sekolah atau les. Jadilah aku berpikir bagaimana bekerja yang tidak perlu melangkahkan kaki keluar rumah. Pikiran pertama yang terbesit adalah, bekerja online. Dengan modal akun PayPal, aku mulai browsing tentang pekerjaan online. Tapi sayangnya, pekerjaan itu memerlukan banyak waktu untuk melewati batas dollar yang ditentukan untuk bisa dimunculkan sebagai uang nyata.

Aku butuh sekarang.

Sekarang.

Atau- paling tidak dalam waktu satu bulan ini.

Bored.

Setelah hampir 3 bulan aku vakum dari hal tulis-menulis, akhirnya hari ini aku bisa memberikan beberapa kata untuk ditulis. Bukannya tidak punya waktu karena aku semester terakhir di SMA, tapi aku tak bisa menata waktu. Kau tahu kan? Melakukan semuanya dengan teratur, bukannya malah ‘ongkang-ongkang’ bermain, nonton drama Korea, atau pun berpacaran.

Dan- Yes! Aku punya pacar baru.

Well, apa yang akan kubahas hari ini?

Pacar? Ah jangan, kasihan para jomblo yang suka banget makan mie instan gara-gara nggak ada yang ngajak jalan.

Menulis? Kukira aku sudah melupakan apa itu arti menulis yang bahkan memang tak ada teorinya. Yang perlu kamu lakukan adalah angkat pensilmu dan tulis!

Ide? Dua hari kemarin ada ide yang datang dan lagi nungguin di luar rumah tapi nggak aku bukain pintunya. Jadi yah, mungkin sekarang sudah mati. Tapi percuma, kalau toh aku membuka pintu itu lebar-lebar, aku tak yakin aku bisa membuatnya nyaman di rumahku. Kau mengerti maksudku kan?

Baiklah, aku tak punya topik pembicaraan.

Ehem.

Sebenarnya aku ingin menjadi seorang penulis. Bukan untuk sejumlah royalti atau pun ketenaran, toh aku tak suka dengan hal-hal berbau terkenal. Tapi aku ingin mendengar tarikan napas puas para pembaca ketika mereka sampai di kalimat terakhir ceritaku.

Aku ingin melihat mereka bahagia, melalui tulisanku.

Aku Butuh Perhatianmu

Tuhaaannnn.

Kenapa tidak ada yang mau mengerti aku?

Demi alam semesta yang Kau ciptakan dengan sempurna, mengapa tidak ada segelintir orang yang mengerti perasaanku?

Mengapa tak ada orang yang mengerti bahwa aku selalu menutupi semua isi hatiku dan menggantikannya dengan wajah datarku?

Bahkan orang tuaku juga lupa bagaimana cara membaca ekspresi wajah anak mereka.

Dan Tuhaaannn…

Mereka menganggapku mengambang di atas air!

Mereka tak menganggap kesungguhan hatiku!

Mereka pun tak melihat ketulusan dan kerja keras yang kukerahkan dalam setiap usahaku!

Mereka mengira aku hanya main-main!

Ya Tuhaaaannn…

Siapa lagi yang bisa mengertiku selain Kau?

Tapi Tuhan, sungguh, sakit sekali melihat tidak ada orang yang tahu bahwa aku serius.

Smile. And everything will be okay.

Sebenarnya kalau aku mengklaim diri sendiri bisa menyembunyikan perasaan itu salah.

Karena aku lebih ahli mengekspresikan perasaanku lebih jelas daripada orang lain, meskipun aku mencoba untuk tetap tersenyum.

Memang bukan air mata yang keluar dan bukan kata cemooh yang membalaskan dendam. Tapi marahku adalah diam. Dan hanya tersenyum atau menjawab sekenanya kalau memang diperlukan.

Hanya orang-orang tertentu yang mengerti marahku. Karena orang asing hanya menganggapku angin lewat. Meskipun orang asing tersebut melihatku diam atau sesekali melamun, melayangkan padangan ke arah tak menentu, mereka hanya melihatku dengan tatapan “oh, cukup tahu.”

Berbeda dengan orang dekat yang kupercaya, mereka akan menepuk bahuku dan berkata “Kamu kenapa?”.

Peduli. Peduli denganku yang tiba-tiba terdiam tanpa alasan.

Saat aku benar-benar bahagia. Aku bakal memperlihatkan deretan kamus lucuku dan bertingkah konyol didepan mereka. Menghibur mereka atau pun menjahili mereka. Karena aku tak bisa diam untuk menyimpan kebahagiaan ini sendirian.

Entah true smile atau fake smile yang kukenakan saat ini.

Namun kuyakin,

Smile. And everything will be okay.