Pernah Kuberharap

Semua sama saja.
Pagi berganti siang, siang berganti malam.
Angin lembut nan segar yang menggelitik di pagi hari. Terik matahari yang membakar kulit di siang hari. Dan bulan yang memberikan tarian selamat datang di malam hari.
Sesekali terdengar bunyi gemericik hujan yang menyayat hati. Semerbak harum aroma tanah. Dan tempo musik yang kian melembut.
Ah…
Ingin kupejamkan mata untuk sejenak.
Memberi sedikit ruang kepada pikiran dan perasaan. Agar tidak melulu tegang. Rileks… rileks… rileks…
Aku tersenyum.
Pernah kuberharap kepada awan hitam, agar lebih mengalah kepada awan putih. Sehingga banyak orang tak mengeluh tentang pakaian mereka yang masih basah.
Pernah kuberharap kepada matahari, agar tidak menyinari bumi dengan sepenuh tenaga. Sehingga aku tidak harus mengibaskan sebuah buku kearah wajahku.
Pernah kuberharap kepada buku, agar ia bisa berbicara. Sehingga selalu menemaniku di saat aku sendiri.
Pernah kuberharap kepada dirinya, agar ia selalu menemaniku, menghiburku, dan ada disampingku. Sehingga aku pun tak perlu susah-susah menahan air mata karena tidak ada satupun tanda ketertarikan dirinya untuk bersamaku.
Pernah kuberharap… pernah kuberharap…
Ada seseorang yang mengatakan bahwa, “Jangan pernah berharap kepada orang lain.”
Ya.
Aku tak akan berharap lagi.
Aku janji.

Advertisements

Loneliness.

Seorang anak kecil berlari dengan riang membawa sebuah lolipop besar di tangan kanannya. Ia tersenyum bahagia, begitu pula matanya. Memancarkan kesucian yang khas dari binar matanya. Ia memamerkan lolipop itu kepada kedua orang tuanya dan mereka ikut tersenyum. Suasana kekeluargaan mereka terpancar dari bahu mereka hanya karena sebuah lolipop.

That’s so cute. But this isn’t that kind of feeling.

Ah… perasaan ini datang lagi.

Sadness, loneliness, anger.

Tidak ada satupun perasaan di atas yang menggambarkan hati kebahagiaan.

Tidak ada.

Langit hitam muncul dengan pasukan awan kejamnya. Memerintahkannya untuk melepaskan butir-butir air yang mereka penjara. Air berteriak kepada awan hitam agar air tidak melemparnya ke bumi. Namun si awan hitam acuh dan mulai melepas borgol mereka. Satu-persatu. Tak ada perlindungan. Sendirian. Jatuh bebas ke bawah, kemudian hancur berkeping-keping.

That kind of feeling, that I feel. Maybe.

Can you please go away? This feeling, can you please go away?

Cry, cry, cry.

Aku perempuan lemah.

Yang menangis setiap hari hanya karena masalah sepele.

Bahkan aku bisa menangisi semut kecil yang sudah kuinjak.

Sayangnya habits itu keluar baru-baru ini. Di empat tahun ini, aku hampir tidak pernah menangis. Kecuali menangis karena nilai sekolahku yang nggak karu-karuan itu.

Tapi aku heran, kenapa air mata ini tidak pernah habis meskipun sudah banyak yang dikeluarkan? Bahkan paginya sampai bengkak.

Menangis adalah wujud perasaan sakit hati, kecewa, atau pun marah.

Tapi aku menangis karena ketiga faktor di atas. Termasuk semut mati itu.

Aku Lelah.

Oh my God. Ia menemukan buku diary-ku.

Aku menyambungkan kembali akun Skype-ku dan menghubunginya. Aku kangen wajah bundernya.

Ketika ia tiba-tiba berkata “Aku menemukan hal yang menarik.” Ia menyunggingkan senyum yang licik.

“Apa?”

Ia menatapku sebentar, kemudian kembali terfokus pada layar laptopnya.

DEG!

“Sayang? Hal menarik apa?” Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apa?”

Aku terus mendesaknya.Tuhan, jangan bilang kalau dia-

“arinimylife-”

“What the f-” aku menahan kata-kata kasar itu keluar “Please, jangan di buka.”

Tapi ia tidak bergeming dan masih menelusuri kata demi kata yang kutuliskan di sana.

F***

Aku langsung mematikan Skype dan mencopot baterai ponsel. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana cara menyembunyikan blog sialan itu.

Tanpa sadar air mata mulai menetes. Kukira aku benar-benar kesurupan. Bergumam tidak jelas, air mata merebak, ponsel yang sengaja aku gebuk-gebukin lantai, dan membayangkan ekspresi ‘dia’ yang pastinya bakal marah gara-gara aku hilang.

Tapi aku lebih marah.

Aku lebih marah dengan diri sendiri, dengan dirinya yang masih membuka blogku meskipun aku meneriakinya ‘Jangan!’, aku marah dengan dia yang tidak menghiraukanku dan hanya peduli dengan video sialan yang ia tonton, dengan diriku yang tidak bisa menahan senyumku sampai waktu telepon habis, dengan diriku yang tidak bisa akting baik di depannya, dengan diriku yang tiba-tiba menyembur dan hilang entah kemana, aku marah dengan semuanya.

Ini memang salahku.

Tak sadar, air mataku jatuh lebih deras.

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.

Aku hanya ingin melihat senyumnya, melihat moodbooster-ku senang.

Apakah itu tidak boleh?

Tak bisakah orang yang kucintai saat ini, melihatku dan tersenyum untuk sesaat?