Hati yang Ternoda

Bodoh. Aku benar-benar bodoh.

Meninggalkan seseorang yang mencintaiku hanya untuk mengejar seseorang yang menyukaiku.

Sekarang setelah seorang yang mencintaiku itu tidak percaya padaku dan ‘akan’ membenciku, bisakah aku kembali padanya dengan keadaan masih memikirkan seseorang yang menyukaiku?

Pasti ia akan menolakku.

Tapi apa yang ia jawab? “Aku cinta kamu dan aku nggak mau pisah sama kamu.”

Dia sangat mencintaiku. Sangat. Bahkan setelah aku melukai hatinya, ia tetap mencintaiku.

Bagaimana bisa aku memilih orang lain ketika ia adalah ada seseorang yang setia menungguku, memberikan cinta kasihnya padaku, memberikan tatapan cintanya padaku?

Sungguh bodoh sekali, aku.

Kini aku menyakitinya. Berkali-kali. Ia terus-terusan berkata “Jangan sakiti aku lagi.” atau “It’s hurt. Please don’t let me go”

Aku tertegun. Apakah kau terlalu sakit sehingga kau berencana untuk meninggalkanku? 😥

Baiklah.

Kalau itu membuatmu bahagia, maka tinggalkanlah.

Aku tak ingin mendengarmu menangis karenaku lagi. Aku ingin kamu tertawa. Aku ingin kau tidak tersakiti. Aku ingin Gallant yang ceria.

Tak apa. Aku di sini cukup mencintaimu dalam diam, seperti dua tahun lalu. Di mana aku akan selalu menengokkan kepalaku kebelakang sekedar melihat wajahmu, mengobrol dengan teman sebangkumu agar aku bisa mengobrol dengamu juga, dan sangat girang jika kau menganggu tidur pagiku.

Aku ingin memutar waktu. Hal yang tidak mungkin meski hanya untuk dipikirkan.

Seberapa kerasnya aku berusaha menata hatiku kembali dan memberikannya kepada sang pemilik, si pemilik mungkin tak akan menerimanya dengan sepenuh hati sebab hati ini pernah dinodai.

Advertisements

Bahagia

Kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, kepada Tuhan yang menciptakan senja dan air hujan, dan kepada Tuhan yang menciptakanku dan dirinya- aku mencintainya.

Sungguh, aku mencintainya.

Pagi, siang, malam, tak hentinya aku memikirkannya. Memikirkan berapa helai rambut yang jatuh dari kepalanya. Memikirkan berapa kali senyum yang ia kembangkan hari ini. Dan memikirkan seberapa besar cintanya yang ia berikan padaku.

Setiap malam sebelum tidur, kusempatkan diri untuk menerawang. Menembus langit-langit hingga putaran galaksi, demi menjangkau imajinasiku. Berangan-angan ketika kau ada di sampingku, tersenyum padaku dan memegang tanganku.

Seolah tak ada bahasa lain yang bisa mengungkapkan cinta kita, KITA hanya terdiam membisu. Saling bertukar bahasa kalbu. Kemudian ketika kita mengerti satu sama lain, bibir yang akan merespon semuanya. Dengan senyuman tipis namun penuh cinta. Lalu tangan kita saling bergenggaman erat, meyakinkan satu sama lain bahwa cinta kita tak akan mudah terlepaskan.

Kita. Bahagia.

16-10.

A Dream

Hal yang paling membahagiakanku nanti bukanlah rengekan manja dan panggilan “Mama” yang keluar dari mulut anak kita kelak.

Bukan juga cincin emas 10 karat yang melingkar rapi di jari manisku.

Bukan sebuah genggaman tangan yang erat.

Tapi…

Sebuah perasaan ketika aku terbangun untuk menyapa indahnya pagi dan aku menemukanmu disana.

Disampingku. Tidur pulas dengan napas teratur. Memberikan irama lembut bagi pipiku.

Dan aku mencium pipimu seraya berbisik “Selamat pagi.”

But I know that is a dream.

A dream that never come true.