Pernah Kuberharap

Semua sama saja.
Pagi berganti siang, siang berganti malam.
Angin lembut nan segar yang menggelitik di pagi hari. Terik matahari yang membakar kulit di siang hari. Dan bulan yang memberikan tarian selamat datang di malam hari.
Sesekali terdengar bunyi gemericik hujan yang menyayat hati. Semerbak harum aroma tanah. Dan tempo musik yang kian melembut.
Ah…
Ingin kupejamkan mata untuk sejenak.
Memberi sedikit ruang kepada pikiran dan perasaan. Agar tidak melulu tegang. Rileks… rileks… rileks…
Aku tersenyum.
Pernah kuberharap kepada awan hitam, agar lebih mengalah kepada awan putih. Sehingga banyak orang tak mengeluh tentang pakaian mereka yang masih basah.
Pernah kuberharap kepada matahari, agar tidak menyinari bumi dengan sepenuh tenaga. Sehingga aku tidak harus mengibaskan sebuah buku kearah wajahku.
Pernah kuberharap kepada buku, agar ia bisa berbicara. Sehingga selalu menemaniku di saat aku sendiri.
Pernah kuberharap kepada dirinya, agar ia selalu menemaniku, menghiburku, dan ada disampingku. Sehingga aku pun tak perlu susah-susah menahan air mata karena tidak ada satupun tanda ketertarikan dirinya untuk bersamaku.
Pernah kuberharap… pernah kuberharap…
Ada seseorang yang mengatakan bahwa, “Jangan pernah berharap kepada orang lain.”
Ya.
Aku tak akan berharap lagi.
Aku janji.

Advertisements

Bahagia

Kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, kepada Tuhan yang menciptakan senja dan air hujan, dan kepada Tuhan yang menciptakanku dan dirinya- aku mencintainya.

Sungguh, aku mencintainya.

Pagi, siang, malam, tak hentinya aku memikirkannya. Memikirkan berapa helai rambut yang jatuh dari kepalanya. Memikirkan berapa kali senyum yang ia kembangkan hari ini. Dan memikirkan seberapa besar cintanya yang ia berikan padaku.

Setiap malam sebelum tidur, kusempatkan diri untuk menerawang. Menembus langit-langit hingga putaran galaksi, demi menjangkau imajinasiku. Berangan-angan ketika kau ada di sampingku, tersenyum padaku dan memegang tanganku.

Seolah tak ada bahasa lain yang bisa mengungkapkan cinta kita, KITA hanya terdiam membisu. Saling bertukar bahasa kalbu. Kemudian ketika kita mengerti satu sama lain, bibir yang akan merespon semuanya. Dengan senyuman tipis namun penuh cinta. Lalu tangan kita saling bergenggaman erat, meyakinkan satu sama lain bahwa cinta kita tak akan mudah terlepaskan.

Kita. Bahagia.

16-10.

A Dream

Hal yang paling membahagiakanku nanti bukanlah rengekan manja dan panggilan “Mama” yang keluar dari mulut anak kita kelak.

Bukan juga cincin emas 10 karat yang melingkar rapi di jari manisku.

Bukan sebuah genggaman tangan yang erat.

Tapi…

Sebuah perasaan ketika aku terbangun untuk menyapa indahnya pagi dan aku menemukanmu disana.

Disampingku. Tidur pulas dengan napas teratur. Memberikan irama lembut bagi pipiku.

Dan aku mencium pipimu seraya berbisik “Selamat pagi.”

But I know that is a dream.

A dream that never come true.

Aku Lelah.

Oh my God. Ia menemukan buku diary-ku.

Aku menyambungkan kembali akun Skype-ku dan menghubunginya. Aku kangen wajah bundernya.

Ketika ia tiba-tiba berkata “Aku menemukan hal yang menarik.” Ia menyunggingkan senyum yang licik.

“Apa?”

Ia menatapku sebentar, kemudian kembali terfokus pada layar laptopnya.

DEG!

“Sayang? Hal menarik apa?” Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apa?”

Aku terus mendesaknya.Tuhan, jangan bilang kalau dia-

“arinimylife-”

“What the f-” aku menahan kata-kata kasar itu keluar “Please, jangan di buka.”

Tapi ia tidak bergeming dan masih menelusuri kata demi kata yang kutuliskan di sana.

F***

Aku langsung mematikan Skype dan mencopot baterai ponsel. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana cara menyembunyikan blog sialan itu.

Tanpa sadar air mata mulai menetes. Kukira aku benar-benar kesurupan. Bergumam tidak jelas, air mata merebak, ponsel yang sengaja aku gebuk-gebukin lantai, dan membayangkan ekspresi ‘dia’ yang pastinya bakal marah gara-gara aku hilang.

Tapi aku lebih marah.

Aku lebih marah dengan diri sendiri, dengan dirinya yang masih membuka blogku meskipun aku meneriakinya ‘Jangan!’, aku marah dengan dia yang tidak menghiraukanku dan hanya peduli dengan video sialan yang ia tonton, dengan diriku yang tidak bisa menahan senyumku sampai waktu telepon habis, dengan diriku yang tidak bisa akting baik di depannya, dengan diriku yang tiba-tiba menyembur dan hilang entah kemana, aku marah dengan semuanya.

Ini memang salahku.

Tak sadar, air mataku jatuh lebih deras.

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.

Aku hanya ingin melihat senyumnya, melihat moodbooster-ku senang.

Apakah itu tidak boleh?

Tak bisakah orang yang kucintai saat ini, melihatku dan tersenyum untuk sesaat?