Hati yang Ternoda

Bodoh. Aku benar-benar bodoh.

Meninggalkan seseorang yang mencintaiku hanya untuk mengejar seseorang yang menyukaiku.

Sekarang setelah seorang yang mencintaiku itu tidak percaya padaku dan ‘akan’ membenciku, bisakah aku kembali padanya dengan keadaan masih memikirkan seseorang yang menyukaiku?

Pasti ia akan menolakku.

Tapi apa yang ia jawab? “Aku cinta kamu dan aku nggak mau pisah sama kamu.”

Dia sangat mencintaiku. Sangat. Bahkan setelah aku melukai hatinya, ia tetap mencintaiku.

Bagaimana bisa aku memilih orang lain ketika ia adalah ada seseorang yang setia menungguku, memberikan cinta kasihnya padaku, memberikan tatapan cintanya padaku?

Sungguh bodoh sekali, aku.

Kini aku menyakitinya. Berkali-kali.¬†Ia terus-terusan berkata “Jangan sakiti aku lagi.” atau “It’s hurt. Please don’t let me go”

Aku tertegun. Apakah kau terlalu sakit sehingga kau berencana untuk meninggalkanku? ūüė•

Baiklah.

Kalau itu membuatmu bahagia, maka tinggalkanlah.

Aku tak ingin mendengarmu menangis karenaku lagi. Aku ingin kamu tertawa. Aku ingin kau tidak tersakiti. Aku ingin Gallant yang ceria.

Tak apa. Aku di sini cukup mencintaimu dalam diam, seperti dua tahun lalu. Di mana aku akan selalu menengokkan kepalaku kebelakang sekedar melihat wajahmu, mengobrol dengan teman sebangkumu agar aku bisa mengobrol dengamu juga, dan sangat girang jika kau menganggu tidur pagiku.

Aku ingin memutar waktu. Hal yang tidak mungkin meski hanya untuk dipikirkan.

Seberapa kerasnya aku berusaha menata hatiku kembali dan memberikannya kepada sang pemilik, si pemilik mungkin tak akan menerimanya dengan sepenuh hati sebab hati ini pernah dinodai.

Iklan

It Hurts

Ya Allah, ini benar-benar sakit.

Pertarungan antara logika dan perasaan ini benar-benar sakit.

Mempertahankan sesuatu yang kamu tahu tak akan bisa dipertahankan itu menyesakkan.

Mencintai seseorang yang tak bisa dicintai itu…

Menyedihkan.

Hatiku sakit.

Tapi yang membuatku lebih sakit adalah, aku tak bisa menangis karenanya.

Aku tak bisa meletupkan emosi di dalam diriku. Aku tak lega. Dan ini membuatku gila.

Dunia, agama, orang tua, guru, sahabat, teman menentang cerita cinta kita.

Benang-benang kuat yang dikaitkan pada kedua hati kita kini seakan hampir putus. Menjahitkan hati masing-masing yang mulai terluka karena pertentangan itu. Tak luput dari pertengkaran kecil, hubungan kita semakin renggang. Mungkin, mungkin- membuat celah bagi orang ketiga untuk masuk. Ataupun setan yang berbisik untuk melaksanakan rencana bunuh diri.

Hati ini terluka.

Terluka karena pemilik hati ini merasa telah mengorbankan segalanya. Segalanya. Namun cinta itu tak bisa didapatkan. Terlalu jauh dan terlalu sulit. Membuat bulir air mata ini terus berjatuhan, meskipun kenyataannya setetes pun tak kutemukan di bawah mataku. Doa-doa terpancar dari mulut kecil ini, berharap bahwa suatu saat nanti cinta ini bisa bersatu dan tak akan ada seorang pun yang bisa menentangnya.

Serakah, memang.

Karena itulah satu-satunya permintaanku saat ini.

Bergandengan tangan dengannya tanpa peduli siapa saja yang mengolok-olok kami. Kami sudahlah cukup bersinar diantara mereka. Dua orang, aku dan dia, itu saja cukup.

Ambang Batas

Mungkin aku memang sudah diambang keterlaluan.
Amarah yang memelukku seolah membuatku kalap sendiri.
Ditemani air mata kemarahan, aku melolong. Menghancurkan dan mengacaukan barang-barang yang tidak mempunyai dosa.
Bahkan aku berusaha untuk mengacaukan diriku sendiri. Tidak makan seharian, tidur seharian, menangis seharian. Dan tidak keluar rumah seharian. Mengunci pintu kamar dan menyetel musik keras-keras, meredam ketukan orang luar yang peduli denganku.
Aku hanya ingin sendiri.
Jangan ganggu aku.
Karena aku masih bergelut dengan diriku sendiri, pikiranku, dan perasaanku.

Tolong,
Jangan ganggu aku.

Aku Lelah.

Oh my God. Ia menemukan buku diary-ku.

Aku menyambungkan kembali akun Skype-ku dan menghubunginya. Aku kangen wajah bundernya.

Ketika ia tiba-tiba berkata¬†“Aku menemukan hal yang menarik.” Ia menyunggingkan senyum yang licik.

“Apa?”

Ia menatapku sebentar, kemudian kembali terfokus pada layar laptopnya.

DEG!

“Sayang? Hal menarik apa?” Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apa?”

Aku terus mendesaknya.Tuhan, jangan bilang kalau dia-

“arinimylife-”

“What the f-” aku menahan kata-kata kasar itu keluar “Please,¬†jangan di buka.”

Tapi ia tidak bergeming dan masih menelusuri kata demi kata yang kutuliskan di sana.

F***

Aku langsung mematikan Skype dan mencopot baterai ponsel. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana cara menyembunyikan blog sialan itu.

Tanpa sadar air mata mulai menetes. Kukira aku benar-benar kesurupan. Bergumam tidak jelas, air mata merebak, ponsel yang sengaja aku gebuk-gebukin lantai, dan membayangkan ekspresi ‘dia’ yang pastinya bakal marah gara-gara aku hilang.

Tapi aku lebih marah.

Aku lebih marah dengan diri sendiri, dengan dirinya yang masih membuka blogku meskipun aku meneriakinya ‘Jangan!’, aku marah dengan dia yang tidak menghiraukanku¬†dan hanya peduli dengan video sialan yang ia tonton, dengan diriku yang tidak bisa menahan¬†senyumku¬†sampai waktu telepon habis, dengan diriku yang tidak bisa akting baik di depannya, dengan diriku yang tiba-tiba menyembur dan hilang entah kemana,¬†aku marah dengan semuanya.

Ini memang salahku.

Tak sadar, air mataku jatuh lebih deras.

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.

Aku hanya ingin melihat senyumnya, melihat moodbooster-ku senang.

Apakah itu tidak boleh?

Tak bisakah orang yang kucintai saat ini, melihatku dan tersenyum untuk sesaat?

Aku Butuh Perhatianmu

Tuhaaannnn.

Kenapa tidak ada yang mau mengerti aku?

Demi alam semesta yang Kau ciptakan dengan sempurna, mengapa tidak ada segelintir orang yang mengerti perasaanku?

Mengapa tak ada orang yang mengerti bahwa aku selalu menutupi semua isi hatiku dan menggantikannya dengan wajah datarku?

Bahkan orang tuaku juga lupa bagaimana cara membaca ekspresi wajah anak mereka.

Dan Tuhaaannn…

Mereka menganggapku mengambang di atas air!

Mereka tak menganggap kesungguhan hatiku!

Mereka pun tak melihat ketulusan dan kerja keras yang kukerahkan dalam setiap usahaku!

Mereka mengira aku hanya main-main!

Ya Tuhaaaannn…

Siapa lagi yang bisa mengertiku selain Kau?

Tapi Tuhan, sungguh, sakit sekali melihat tidak ada orang yang tahu bahwa aku serius.

Sometimes, White Lie isn’t good at all.

Mengetahui kebenaran tidak pada waktu yang tepat benar-benar menyakitkan.

Aku berkata seperti ini bukan karena aku yang menyembunyikan kebenaran itu. Melainkan temanku, sahabatku, orang yang kuanggap paling penting di penghujung satu tahun terakhir ini membohongiku.

Bukan hanya satu-dua kali, melainkan sudah lebih sepuluh kali ia membohongiku.

Satu kebohongan ia tutupi dengan kebohongan lain.

Kebohongan lain ia tutupi dengan kebohongan lainnya.

Begitu seterusnya, sampai aku harus menahan diri untuk tidak bertanya lagi. Berusaha untuk tak membuatnya berbohong padaku lagi dan berusaha untuk tak menyakiti perasaanku diri sendiri.

Tapi semakin hari, aku merasa ia benar-benar memblokir semua aksesku padanya.

Mulai dari jarang SMS, telepon, sosial media. Bukan dia saja yang mulai menghilang, tapi aku secara tidak langsung menghindarinya. Padahal aku tak bermaksud seperti itu, sungguh.

Tapi ini benar-benar menyakitkan.

Dia, orang yang menyembunyikan segala sesuatu dariku.

Dan aku, orang yang sudah tau semuanya sejak awal.

Kini tinggal waktu yang menentukan kapan sebuah kebenaran keluar dari mulutnya.

Do I have to wait (again)?

Shit.

Kulakukan sesuatu yang memalukan, memuakkan, dan mengenaskan.

Aku menangis didepan tiga puluh dua pasang mata.

Dan bodohnya aku meneteskan air mata hanya karena masalah sepele.

Aku ‘dipasangkan’ dengan seorang laki-laki yang bernama, sebut saja- Icho.

Bukannya aku perempuan yang cengeng, menangis tanpa sebab atau malah ingin menambah bumbu-bumbu drama.

Tapi aku menangis karena aku terpojok.

Mereka, teman-temanku memojokkanku dengan Icho. Menuntut jawaban yang mereka ajukan. Menatap kami berdua antusias, dari atas sampai bawah. Mendesak, kemudian sedikit mengejek.

Awalnya aku menjawabnya dengan tampang sedatar mungkin, karena aku memang tak punya ikatan khusus dengan Icho.

Tapi seseorang menekan tombol merahku.

Ia bertanya, sesuatu yang privasi, sambil mengotot pula.

Aku hanya tersenyum dan mengacungkan kelima jariku didepan mukanya “Itu privasi.”

Tapi ia tetap mendesak. Karena itu privasi BANGET, jadinya aku menggeleng sekuat tenaga. Untuk menolak. Tapi ia tetap saja keukeuh dengan pertanyaannya.

Tes. Tes. Tes.

Bulir demi bulir air mata jatuh dalam pangkuanku.

Aku menangis.

Menangis dengan jelek.

Menangis dengan sejuta perasaan malu disetiap tetesan air mataku.

Tapi bah, aku tak peduli. Aku ingin keluar dari kerumunan teman-temanku yang mempermainkanku sekarang ini.

Lihatlah mereka, buru-buru mereka mendekatiku dan menepuk bahuku pelan seraya menghibur¬†“Jangan menangis, Rin. Ini cuma bercanda.”

Aku tersenyum mengejek “Hah, bercanda? Ini sudah masuk area privasiku. Sekarang, sudah selesai kan? Aku mau pulang.”

Seperti komando, kata-kata terakhirku berhasil membuat mereka-mereka memberi jalan. Dan aku melenggak lesu ditengahnya, sambil mengadah air mata yang kurasa akan menetes lagi.

Sial.

Imej-ku jatuh gara-gara ini.