Akankah kau mampu?

Sedih ya.

Melihat kenyataan yang berbanding terbalik dengan ekspektasi.

Menginginkan A, tetapi tak bisa mendapatkannya.

Menginginkan B, ada pihak C yang tidak menyetujuinya.

Menginginkan sesuatu itu boleh, tetapi kalau tidak bisa mendapatkannya? Akankah kau memperjuangkan sesuatu itu mati-matian dan mengorbankan seluruh hidupmu kepada ‘sesuatu’ itu?

Sebagian orang akan mengatakan ‘YA’.

Tapi bagiku, ‘TIDAK’ jawabannya.

Mungkin sesuatu yang bukan melibatkan perasaan itu bisa dikejar, tetapi sesuatu yang melibatkan perasaan terutama seseorang itu tidak bisa dikejar. Apalagi seseorang itu punya hal khusus yang memang tidak bisa dikejar.

Agama contohnya.

Mengejar seseorang yang berbeda agamanya, akankah kau mampu?

Mencintai seseorang dan ia pun mencintaimu, sayangnya kau islam dan dia kristen, akankah kau mampu?

Dan misalnya ia jelas selalu hadir ke gereja hari Minggu sedangkan kau menunaikan sholat 5 waktu tanpa ada hari Minggu-Mingguan yang melibatkan aktivitas duduk dan berdoa kepada Tuhan versi Kristen?

Sekali lagi.

Akankah kau mampu?

Advertisements

PreLovedBooks4

Halo!

Sekarang saya jual buku preloved dan kolpri dengan harga murah.

Bedanya Preloved dengan Kolpri?

Preloved itu buku yang tidak ada TTD maupun nama pemilik sedangkan Kolpri (Koleksi Pribadi) itu buku yang ada TTD atau nama pemilik. Sama-sama bekas tapi masih good quality.

Saya juga jual buku baru. Seperti buku Blood Type 3 dari Penerbit Haru atau buku-buku dari penerbit laiinya.

Untuk melihat foto bukunya, bisa cek di ig : @prelovedbooks4

Dan kalau mau tanya atau request buku, bisa hubungi :

Line : @prelovedbooks4

BBM : 54CCA2F3

Aku Lelah.

Oh my God. Ia menemukan buku diary-ku.

Aku menyambungkan kembali akun Skype-ku dan menghubunginya. Aku kangen wajah bundernya.

Ketika ia tiba-tiba berkata “Aku menemukan hal yang menarik.” Ia menyunggingkan senyum yang licik.

“Apa?”

Ia menatapku sebentar, kemudian kembali terfokus pada layar laptopnya.

DEG!

“Sayang? Hal menarik apa?” Ia tidak menjawab dan hanya tersenyum. “Apa?”

Aku terus mendesaknya.Tuhan, jangan bilang kalau dia-

“arinimylife-”

“What the f-” aku menahan kata-kata kasar itu keluar “Please, jangan di buka.”

Tapi ia tidak bergeming dan masih menelusuri kata demi kata yang kutuliskan di sana.

F***

Aku langsung mematikan Skype dan mencopot baterai ponsel. Yang kupikirkan hanya satu, bagaimana cara menyembunyikan blog sialan itu.

Tanpa sadar air mata mulai menetes. Kukira aku benar-benar kesurupan. Bergumam tidak jelas, air mata merebak, ponsel yang sengaja aku gebuk-gebukin lantai, dan membayangkan ekspresi ‘dia’ yang pastinya bakal marah gara-gara aku hilang.

Tapi aku lebih marah.

Aku lebih marah dengan diri sendiri, dengan dirinya yang masih membuka blogku meskipun aku meneriakinya ‘Jangan!’, aku marah dengan dia yang tidak menghiraukanku dan hanya peduli dengan video sialan yang ia tonton, dengan diriku yang tidak bisa menahan senyumku sampai waktu telepon habis, dengan diriku yang tidak bisa akting baik di depannya, dengan diriku yang tiba-tiba menyembur dan hilang entah kemana, aku marah dengan semuanya.

Ini memang salahku.

Tak sadar, air mataku jatuh lebih deras.

Aku lelah.

Aku benar-benar lelah.

Aku hanya ingin melihat senyumnya, melihat moodbooster-ku senang.

Apakah itu tidak boleh?

Tak bisakah orang yang kucintai saat ini, melihatku dan tersenyum untuk sesaat?

Bored.

Setelah hampir 3 bulan aku vakum dari hal tulis-menulis, akhirnya hari ini aku bisa memberikan beberapa kata untuk ditulis. Bukannya tidak punya waktu karena aku semester terakhir di SMA, tapi aku tak bisa menata waktu. Kau tahu kan? Melakukan semuanya dengan teratur, bukannya malah ‘ongkang-ongkang’ bermain, nonton drama Korea, atau pun berpacaran.

Dan- Yes! Aku punya pacar baru.

Well, apa yang akan kubahas hari ini?

Pacar? Ah jangan, kasihan para jomblo yang suka banget makan mie instan gara-gara nggak ada yang ngajak jalan.

Menulis? Kukira aku sudah melupakan apa itu arti menulis yang bahkan memang tak ada teorinya. Yang perlu kamu lakukan adalah angkat pensilmu dan tulis!

Ide? Dua hari kemarin ada ide yang datang dan lagi nungguin di luar rumah tapi nggak aku bukain pintunya. Jadi yah, mungkin sekarang sudah mati. Tapi percuma, kalau toh aku membuka pintu itu lebar-lebar, aku tak yakin aku bisa membuatnya nyaman di rumahku. Kau mengerti maksudku kan?

Baiklah, aku tak punya topik pembicaraan.

Ehem.

Sebenarnya aku ingin menjadi seorang penulis. Bukan untuk sejumlah royalti atau pun ketenaran, toh aku tak suka dengan hal-hal berbau terkenal. Tapi aku ingin mendengar tarikan napas puas para pembaca ketika mereka sampai di kalimat terakhir ceritaku.

Aku ingin melihat mereka bahagia, melalui tulisanku.

Sometimes, White Lie isn’t good at all.

Mengetahui kebenaran tidak pada waktu yang tepat benar-benar menyakitkan.

Aku berkata seperti ini bukan karena aku yang menyembunyikan kebenaran itu. Melainkan temanku, sahabatku, orang yang kuanggap paling penting di penghujung satu tahun terakhir ini membohongiku.

Bukan hanya satu-dua kali, melainkan sudah lebih sepuluh kali ia membohongiku.

Satu kebohongan ia tutupi dengan kebohongan lain.

Kebohongan lain ia tutupi dengan kebohongan lainnya.

Begitu seterusnya, sampai aku harus menahan diri untuk tidak bertanya lagi. Berusaha untuk tak membuatnya berbohong padaku lagi dan berusaha untuk tak menyakiti perasaanku diri sendiri.

Tapi semakin hari, aku merasa ia benar-benar memblokir semua aksesku padanya.

Mulai dari jarang SMS, telepon, sosial media. Bukan dia saja yang mulai menghilang, tapi aku secara tidak langsung menghindarinya. Padahal aku tak bermaksud seperti itu, sungguh.

Tapi ini benar-benar menyakitkan.

Dia, orang yang menyembunyikan segala sesuatu dariku.

Dan aku, orang yang sudah tau semuanya sejak awal.

Kini tinggal waktu yang menentukan kapan sebuah kebenaran keluar dari mulutnya.

Do I have to wait (again)?